Kota Surabaya meraih Adipura 2009   Surabaya Goes Open Source, Wujudkan Surabaya Smart City   Kota Surabaya meraih juara umum PORPROV II Malang 

Liputan Khusus

PDAM Surabaya
Optimalkan Pelayanan Air Bersih

 

PDAM Surabaya terus bekerja keras mengubah kualitas air tersebut agar bisa digunakan.
Saat ini PDAM Surabaya memiliki lima Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM)
yang terdiri dari IPAM Ngagel I,II,III dan Karangpilang I,II


Surabaya adalah kota pantai yang tidak memiliki sumber mata air. Sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga, baik itu untuk minum maupun aktivitas lain, berasal dari air permukaan berupa sungai yang mengalir membelah kota. Karena posisinya yang berada di hilir ini, kali Surabaya cenderung memiliki tingkat kontaminasi yang tinggi akibat limbah industri dan domestik. Kali Surabaya yang mengalir sepanjang 312 km dari hulu sungai di lereng Gunung Arjuna hingga bermuara di Surabaya, memang rentan terhadap penurunan kualitas air, mengingat di sepanjang tepian aliran air ada ada sekitar 935 industri yang memanfaatkan air dari sungai bahkan tak jarang ada yang membuang limbahnya ke sungai.
Humas PDAM Surabaya, Sunarno, mengatakan PDAM memang tidak bisa memungkiri kondisi sumber baku air di Surabaya yang mengalami kecenderungan untuk terus menurun. “Ya mau bagaimana lagi, kondisi sumber bakunya memang kurang layak. Upaya kita yang kami lakukan selama ini adalah bagaimana mengubah sumber air yang kurang layak itu menjadi layak untuk dikonsumsi,” jelas Sunarno.
Jumlah penduduk yang banyak ditambah dengan ketersediaan air permukaan yang kualitasnya cenderung menurun membuat PDAM harus bekerja keras mengubah kualitas air tersebut agar bisa digunakan. Saat ini PDAM Surabaya memiliki lima Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) yang terdiri dari IPAM Ngagel I,II,III dan Karangpilang I,II. Kapasitas produksi dari lima IPAM ini mampu memproduksi 8830 liter/detik. Sumber airnya berasal dari 96% air permukaan dan 4 % berasal dari sumber air Umbulan,Pandaan.
Namun dari total kapasitas produksi tersebut, PDAM hanya memproduksi sebanyak 8400 liter/detik. “Kita memang sesuaikan dengan kebutuhan warga dan sekarang dari kapasitas maksimal produksi, kami hanya memproduksi sekitar 8400 liter per detik. Namun jumlah ini akan terus bertambah sebab ada instalasi baru yang tahun ini sudah siap untuk dioperasikan yaitu IPAM Karangpilang III. Sekitar bulan April nanti,”jelas Sunarno. IPAM Karangpilang III ini memiliki kapasitas sebesar 2000 liter/ detik dan sanggup melayani 8000 pelanggan baru. Sesuai MDGs, memang seharusnya cakupan layanan air minum
minimal 80% dari total jumlah penduduk. Tetapi PDAM mengklaim saat ini sudah mampu melayani lebih dari 80 % pelanggan, bahkan jumlah ini merupakan salah satu prestasi terbaik jika dibandingkan kota-kota besar lain di Indonesia.
Terkait kualitas air Surabaya yang fluktuatif dan cenderung menurun dari tahun ke tahun, PDAM memang tak punya solusi lain selain memaksimalkan instalasi pengolahan limbahnya dan mengoptimalkan fungsi penambahan zat-zat kimia. Diakui Sunarno, masih banyaknya industri- industri yang tidak mematuhi standard AMDAL dan membuang limbahnya tanpa pengolahan yang memadai membuat kali di Surabaya semakin keruh. Menurut Sunarno, salah satu yang menyebabkan tingginya tingkat polusi adalah aliran air dari Kali Tengah Gresik yang sarat akan polusi air. Aliran air dari sungai tersebut pun mengalir ke bagian hilir dan turut mencemari air di sungai Surabaya. Bahkan jika kadar pencemarannya sangat tinggi, instalasi pengolahan air milik PDAM pun terkadang kewalahan mengatasi hal tersebut. Kasus seperti itu pun pernah terjadi pada Oktober tahun lalu, dimana air PDAM yang mengalir ke rumah-rumah warga berbau amis, keruh dan berwarna.
Menurut Sunarno, itu menunjukkan kalau kandungan bahan organiknya cukup tinggi sehingga instalasi pengolahan limbahnya tidak bisa bekerja maksimal sesuai dengan standard kualitas air yang telah diatur dalam Kepmenkes no. 907 tahun 2002. Berbicara mengenai kandungan polutan dalam air sungai, Sunarno menyebut di Surabaya kandungan BOD dan COD dari air
bakunya masih jauh dari standard kelayakan. Jika normalnya BOD atau kebutuhan oksigen biokimia dalam air normalnya 2 ppm, namun di Kali Surabaya, nilai BOD nya masih diatas angka 6 ppm. Untuk kadar COD atau kebutuhan oksigen kimia, jika standard normalnya adalah 10 ppm, kali Surabaya masih memiliki kadar COD lebih dari 20 ppm. Belum lagi kandungan DO atau kandungan oksigen terlarut, standard seharusnya berada di atas angka 4, sumber air di Surabaya rata-rata masih di bawah angka 4. Tentu saja, dengan kondisi alat instalasi sebagus apapun jika kandungan pencemarnya masih sangat tinggi tentu butuh energi ekstra untuk memaksimalkan kualitas air yang diolah.
Tak jarang memang warga Surabaya mengeluhkan kondisin air PDAM yang keruh. Sebenarnya peristiwa keruhnya air ini bisa disebabkan oleh banyak factor. Selain tingginya kandungan pencemar, bisa juga disebabkan karena terjadinya perbedaan tekanan air secara tiba-tiba. Selain itu timbunan karat pada pipa galvanis( besi) juga bisa menyebabkan kekeruhan ini. Oleh karena itulah kini secara bertahap PDAM sedang melakukan penggantian pipa dengan menggunakan pipa PVC yang anti korosif.
Tahun ini PDAM menganggarkan penggantian pipa sepanjang 11 kilometer secara bertahap. Penggantian pipa galvanis menjadi PVC ini terlebih dahulu diprioritaskan pada wilayah-wilayah yang potensi korosinya tinggi seperti di wilayah Surabaya Utara yang dekat pantai. Penggantian pipa ini akan dilakukan secara rutin dan bertahap setiap tahun. Untuk sambungan rumah akan menggunakan bahan PE atau polyethilen yang lentur dan anti korosi. Program penggantian pipa untuk sambungan rumah dengan pipa PE ini disebut program PE-nisasi.
Faktor penyebab keruhnya air juga bisa disebabkan oleh adanya kebocoran pada pipa distribusi dan pembersihan pipa atau pencucian pipa (flushing). Selain menyebabkan kekeruhan air, pipa yang bocor juga bisa memperkecil volume air. “Jadi kalau misalnya pelanggan merasa airnya keruh mungkin saja pipanya bocor, bisa bocor karena rusak bisa juga karena kasus pencurian air. Segeralah melapor ke PDAM,”ujar Sunarno. Meski tidak memiliki sumber air yang berkualitas, namun PDAM selalu berupaya untuk memaksimalkan pengolahan. Dengan cara apa PDAM bisa mengolah airnya? Air yang masuk ke instalasi pengolahan air PDAM terlebih dahulu mengalami proses aerasi. Proses aerasi ini adalah proses dimana gas dilepaskan atau dibebaskan dari air, diserap atau dilarutkan. Aerasi adalah salah satu proses pendahuluan yang bertujuan untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut.
Setelah aerasi selesai maka proses selanjutnya adalah prasedimentasi atau pengendapan secara gravitasi. Proses ini sangat efektif untuk air baku dengan kekeruhan tinggi, misalnya untuk air Kali Surabaya pada waktu musim penghujan. Setelah prasedimentasi, air kemudian mengalami proses koagulasi-flokulasi kemudian melalui proses sedimentasi atau pengendapan II/ clearator. Air yang sudah mengalami proses pengendapan II, akan mengalami proses selanjutnya yang dinamakan filtrasi atau penyaringan. Setelah itu baru air melalui proses desinfeksi dan kemudian menuju proses akhir yaitu reservoir dimana air sudah masuk dalam tendon air dan siap didistribusikan kepada pelanggan. Pada tahap akhir inilah gas chloor ditambahkan pada air bersih. Pemberian gas chloor ini untuk membunuh bakteri penyebab penyakit. Penambahan zat chloor ini membuat air menjadi aman untuk dikonsumsi. Namun bila bau gas chloor terlalu menyengat, pelanggan bisa mendiamkan air itu terlebih
dahulu selama sehari sebelum digunakan. Dengan demikian bau gas tersebut akan hilang dan air tetap aman untuk dikonsumsi. (wnd)

RSUD Dr. Sutomo - 031-5501078 RS Islam Surabaya - 031-8471877 RS Dr Soewandhie - 031-3725905 PDAM - 031-5039373 PMK Kenjeran - 031-3736559 PMK Pasar Turi - 031-3534738 PMK Perak - 031-3291760 PMK Rungkut - 031-8411113 PMK Wiyung - 031-7523687 RS Haji - 031-5947760
©2009 Webmaster