Liputan Khusus
PDAM Surabaya
Optimalkan Pelayanan Air Bersih
PDAM Surabaya terus bekerja
keras mengubah kualitas air
tersebut agar bisa digunakan.
Saat ini PDAM Surabaya
memiliki lima Instalasi
Pengolahan Air Minum (IPAM)
yang terdiri dari IPAM Ngagel
I,II,III dan Karangpilang I,II
Surabaya adalah kota pantai
yang tidak memiliki
sumber mata air. Sumber
air yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan warga,
baik itu untuk minum maupun
aktivitas lain, berasal dari air
permukaan berupa sungai
yang mengalir membelah
kota. Karena posisinya yang
berada di hilir ini, kali
Surabaya cenderung memiliki
tingkat kontaminasi yang
tinggi akibat limbah industri
dan domestik.
Kali Surabaya yang mengalir
sepanjang 312 km dari
hulu sungai di lereng Gunung
Arjuna hingga bermuara di
Surabaya, memang rentan
terhadap penurunan kualitas
air, mengingat di sepanjang
tepian aliran air ada ada sekitar
935 industri yang memanfaatkan
air dari sungai bahkan
tak jarang ada yang membuang
limbahnya ke sungai.
Humas PDAM Surabaya,
Sunarno, mengatakan PDAM
memang tidak bisa memungkiri
kondisi sumber baku air
di Surabaya yang mengalami
kecenderungan untuk terus
menurun. “Ya mau bagaimana lagi, kondisi sumber bakunya
memang kurang layak. Upaya
kita yang kami lakukan selama
ini adalah bagaimana mengubah
sumber air yang kurang layak itu
menjadi layak untuk dikonsumsi,”
jelas Sunarno.
Jumlah penduduk yang
banyak ditambah dengan
ketersediaan air permukaan
yang kualitasnya cenderung
menurun membuat PDAM harus
bekerja keras mengubah kualitas
air tersebut agar bisa digunakan.
Saat ini PDAM Surabaya
memiliki lima Instalasi Pengolahan
Air Minum (IPAM) yang terdiri
dari IPAM Ngagel I,II,III dan
Karangpilang I,II. Kapasitas produksi
dari lima IPAM ini mampu
memproduksi 8830 liter/detik.
Sumber airnya berasal dari 96%
air permukaan dan 4 % berasal
dari sumber air Umbulan,Pandaan.
Namun dari total kapasitas
produksi tersebut, PDAM
hanya memproduksi sebanyak
8400 liter/detik. “Kita memang sesuaikan dengan
kebutuhan warga dan
sekarang dari kapasitas maksimal
produksi, kami hanya memproduksi
sekitar 8400 liter per
detik. Namun jumlah ini akan
terus bertambah sebab ada instalasi
baru yang tahun ini sudah
siap untuk dioperasikan yaitu
IPAM Karangpilang III. Sekitar
bulan April nanti,”jelas Sunarno.
IPAM Karangpilang III ini
memiliki kapasitas sebesar 2000
liter/ detik dan sanggup
melayani 8000 pelanggan baru.
Sesuai MDGs, memang seharusnya
cakupan layanan air minum
minimal 80% dari total jumlah
penduduk. Tetapi PDAM mengklaim
saat ini sudah mampu
melayani lebih dari 80 % pelanggan,
bahkan jumlah ini merupakan
salah satu prestasi terbaik
jika dibandingkan kota-kota
besar lain di Indonesia.
Terkait kualitas air Surabaya
yang fluktuatif dan cenderung
menurun dari tahun ke tahun,
PDAM memang tak punya solusi
lain selain memaksimalkan instalasi
pengolahan limbahnya
dan mengoptimalkan fungsi penambahan
zat-zat kimia. Diakui
Sunarno, masih banyaknya industri-
industri yang tidak
mematuhi standard AMDAL dan
membuang limbahnya tanpa
pengolahan yang memadai membuat
kali di Surabaya semakin
keruh. Menurut Sunarno, salah
satu yang menyebabkan
tingginya tingkat polusi adalah
aliran air dari Kali Tengah Gresik
yang sarat akan polusi air.
Aliran air dari sungai tersebut
pun mengalir ke bagian hilir
dan turut mencemari air di sungai
Surabaya. Bahkan jika kadar
pencemarannya sangat tinggi,
instalasi pengolahan air milik
PDAM pun terkadang kewalahan
mengatasi hal tersebut. Kasus
seperti itu pun pernah terjadi
pada Oktober tahun lalu, dimana
air PDAM yang mengalir ke
rumah-rumah warga berbau
amis, keruh dan berwarna.
Menurut Sunarno, itu menunjukkan
kalau kandungan bahan
organiknya cukup tinggi sehingga
instalasi pengolahan limbahnya
tidak bisa bekerja maksimal
sesuai dengan standard kualitas
air yang telah diatur dalam Kepmenkes
no. 907 tahun 2002.
Berbicara mengenai kandungan
polutan dalam air sungai,
Sunarno menyebut di Surabaya
kandungan BOD dan COD dari air
bakunya masih jauh dari standard
kelayakan. Jika normalnya
BOD atau kebutuhan oksigen
biokimia dalam air normalnya 2
ppm, namun di Kali Surabaya,
nilai BOD nya masih diatas angka
6 ppm. Untuk kadar COD atau
kebutuhan oksigen kimia, jika
standard normalnya adalah 10
ppm, kali Surabaya masih memiliki
kadar COD lebih dari 20
ppm. Belum lagi kandungan DO
atau kandungan oksigen terlarut,
standard seharusnya berada
di atas angka 4, sumber air
di Surabaya rata-rata masih di
bawah angka 4. Tentu saja, dengan
kondisi alat instalasi sebagus
apapun jika kandungan
pencemarnya masih sangat
tinggi tentu butuh energi ekstra
untuk memaksimalkan kualitas
air yang diolah.
Tak jarang memang warga
Surabaya mengeluhkan kondisin
air PDAM yang keruh. Sebenarnya
peristiwa keruhnya air ini
bisa disebabkan oleh banyak
factor. Selain tingginya kandungan
pencemar, bisa juga disebabkan
karena terjadinya
perbedaan tekanan air secara
tiba-tiba. Selain itu timbunan
karat pada pipa galvanis( besi)
juga bisa menyebabkan
kekeruhan ini. Oleh karena itulah
kini secara bertahap PDAM
sedang melakukan penggantian
pipa dengan menggunakan pipa
PVC yang anti korosif.
Tahun ini PDAM menganggarkan
penggantian pipa sepanjang
11 kilometer secara
bertahap. Penggantian pipa galvanis
menjadi PVC ini terlebih
dahulu diprioritaskan pada
wilayah-wilayah yang potensi
korosinya tinggi seperti di
wilayah Surabaya Utara yang
dekat pantai. Penggantian pipa
ini akan dilakukan secara rutin
dan bertahap setiap tahun.
Untuk sambungan rumah akan
menggunakan bahan PE atau
polyethilen yang lentur dan anti
korosi. Program penggantian
pipa untuk sambungan rumah
dengan pipa PE ini disebut program
PE-nisasi.
Faktor penyebab keruhnya
air juga bisa disebabkan oleh
adanya kebocoran pada pipa distribusi dan pembersihan pipa
atau pencucian pipa (flushing).
Selain menyebabkan kekeruhan
air, pipa yang bocor juga bisa
memperkecil volume air. “Jadi
kalau misalnya pelanggan
merasa airnya keruh mungkin
saja pipanya bocor, bisa bocor
karena rusak bisa juga karena
kasus pencurian air. Segeralah
melapor ke PDAM,”ujar Sunarno.
Meski tidak memiliki sumber
air yang berkualitas, namun
PDAM selalu berupaya untuk
memaksimalkan pengolahan.
Dengan cara apa PDAM bisa
mengolah airnya? Air yang masuk
ke instalasi pengolahan air PDAM
terlebih dahulu mengalami
proses aerasi. Proses aerasi ini
adalah proses dimana gas
dilepaskan atau dibebaskan dari
air, diserap atau dilarutkan.
Aerasi adalah salah satu proses
pendahuluan yang bertujuan
untuk meningkatkan kadar oksigen
terlarut.
Setelah aerasi selesai maka
proses selanjutnya adalah
prasedimentasi atau pengendapan
secara gravitasi. Proses ini
sangat efektif untuk air baku
dengan kekeruhan tinggi, misalnya
untuk air Kali Surabaya pada
waktu musim penghujan. Setelah
prasedimentasi, air kemudian
mengalami proses
koagulasi-flokulasi kemudian
melalui proses sedimentasi atau
pengendapan II/ clearator. Air
yang sudah mengalami proses
pengendapan II, akan mengalami
proses selanjutnya yang dinamakan
filtrasi atau penyaringan.
Setelah itu baru air melalui
proses desinfeksi dan kemudian
menuju proses akhir yaitu reservoir
dimana air sudah masuk
dalam tendon air dan siap didistribusikan
kepada pelanggan.
Pada tahap akhir inilah gas
chloor ditambahkan pada air
bersih. Pemberian gas chloor ini
untuk membunuh bakteri penyebab
penyakit. Penambahan zat
chloor ini membuat air menjadi
aman untuk dikonsumsi. Namun
bila bau gas chloor terlalu
menyengat, pelanggan bisa
mendiamkan air itu terlebih
dahulu selama sehari sebelum
digunakan. Dengan demikian
bau gas tersebut akan hilang dan
air tetap aman untuk dikonsumsi. (wnd)
LOGIN
