Liputan Utama
Kalimas Tempo Doeloe
Sejarah perumahan dan permukiman
di Surabaya salah satunya dimulai dari
tepian sungai yang menjadi sarana
transportasi pada masa itu, yaitu Kali
Surabaya dan Kali Mas. Permukiman
penduduk juga banyak ditemui pada
daerah pesisir utara dekat pelabuhan.
Pada jaman kolonial, pusat
kegiatan juga ditempatkan di
wilayah Surabaya bagian utara,
yaitu sekitar kawasan Jembatan
Merah, kawasan Jl Veteran dan
kawasan Jl. Pahlawan (saat ini).
Demikian pula dengan lokasi permukiman,
berada tidak jauh dari
pusat kegiatan tersebut, yaitu sekitar
Jl. Diponegoro, Jl. Dr. Sutomo, Jl.
Darmo, Jl. Urip Sumoharjo, Jl. Pemuda,
Jl. Genteng Kali, Jl. Wijaya
Kusuma, dan sekitarnya.
Lambat laun seiring perkembangan
Kota Surabaya menjadi kota
dengan daya tarik kuat khususnya di
bidang ekonomi, sosial budaya, dan
politik maka lokasi permukiman
mulai menyebar ke arah yang lebih
luas, yaitu ke Surabaya Selatan,
Timur dan Barat.
Sejarah Kali Mas menjadi bagian
tak terpisahkan dari sejarah keberadaan
Kota Surabaya. Bukti sejarah
mencatat dalam prasasti Trowulan I
yang berangka tahun 1358 M bahwa
Surabaya merupakan sebuah desa
di tepian sungai yang berfungsi sebagai
tempat penyeberangan.
(Handinoto,1996). Keberadaan Kali
Mas yang merupakan anak sungai
dari Kali Brantas juga menjadi pintu
bagi lalu lintas sungai di masa lalu,
di mana sejarah mencatat bahwa
sungai ini dapat dilayari dari hilir
(Surabaya) hingga ke hulu (Kediri,
Mojokerto).
Pelabuhan Rakyat Kali Mas keberadaannya
menunjang perkembangan
Kota Surabaya sebagai kota
perdagangan sejak masa lalu. Pada
jaman kolonial khususnya jaman
Surabaya berada dalam kekuasaan
VOC dan setelahnya dalam
kekuasaan Pemerintah Belanda,
saat itu peran Kali Mas sebagai urat
nadi arus lalu lintas pelayaran
memegang peranan strategis, sehingga
kegiatan baik bisnis dan pemerintahan
dipusatkan
keberadaannya di sekitar Kalimas,
khususnya daerah sekitar Jembatan
Merah. Saat ini di wilayah sekitar
Jembatan Merah dapat disaksikan
gedung-gedung tua peninggalan
jaman Belanda tersebut. Suasana
Kali Mas masa lalu di sekitar Jembatan
Merah.
Berdasarkan tulisan von Faber
(dalam Handinoto, 1996) terlihat
bahwa peran sungai yang melewati
Kota Surabaya (dalam hal ini Kalimas)
mempunyai peran penting
dalam penciptaan jaringan jalan
Kota Surabaya di masa lalu. Pola
jaringan jalan utama Kota Surabaya
selalu mengikuti pola aliran Kali
Surabaya / Kali Mas dan cabangnya.
Hal ini disebabkan konsentrasi penduduk
Kota Surabaya memang berada
di tepian kedua sungai
tersebut.
Akibat pola jalan yang memanjang
mengikuti aliran sungai dari Selatan
menuju ke Utara serta
penduduk yang terkonsentrasi di
kedua tepian sungai, maka konsekuensi
yang ditemukan adalah
banyak ditemukan jembatan, yang
menghubungkan penduduk di
kedua tepian sungai, misalnya jembatan
Patok, Peneleh, Bibis, kalianyar,
Jagalan, Genteng (van
Deventerlaan) dan Cantikan. Pada
tahun 1950an jumlah jembatan
bertambah ke arah selatan, misalnya
Jembatan Gubeng, Wonokromo,
Sonokembang, dll.
Berdasarkan peta penggunaan
lahan tahun 1825, pusat Kota
Surabaya masih terletak di daerah
Jembatan Merah tepatnya sebelah
Barat Jembatan Merah berikut pemukiman
orang Eropa (Handinoto,
1996). Penduduk etnis Cina, Arab
dan Melayu berdiam di sebelah
timur Jembatan Merah. Sedangkan
penduduk asli Surabaya menyebar
sepanjang Kalimas di sebelah Selatan
kota.
Pada jaman dahulu (sekitar abad
18), berdasarkan von Faber (dalam
Handinota, 1996), Kalimas menjadi
sumber kehidupan baik sebagai
bahan baku air untuk persawahan
juga sebagai bahan baku air bersih.
Proses pengolahan air Kalimas menjadi
air bersih melalui penjernihan
dengan overmangaanzure (KMnO4
?) dan tawas (alum). Selanjutnya direbus
dan disaring. Jika terjadi epidemi
kolera, maka dianjurkan agar
air yang telah dimasak sekalipun ditambah
dengan zoutzuur.
Selain sebagai sumber air, Kalimas
juga menjadi penampung air
untuk pematusan dan pembuangan
limbah. Bahkan kondisi kesulitan
mengendalikan banjir juga dialami
Kota Surabaya sejak jaman dulu.
Sekitar tahun 1800an daerah sekitar
Simpang sering terganggu banjir luapan
Kalimas di musim hujan. Untuk
mengatasi banjir, maka Pemerintah
Belanda membangun kanal-kanal,
misalnya tahun 1856 dibangun banjir
kanal menuju Selat Madura dan
bendungan air di Jagir.
Selain itu dalam upaya untuk
melestarikan sungai, bangunan air
lain yang dibangun di Kalimas agar
tetap dapat dilayari sampai Kali
Surabaya adalah pembangunan
pintu air di Gubeng dan Gunungsari
antara tahun 1889 sampai 1899. (*)
LOGIN
