Arsip Berita
Ekspose APBD 2009 Membangun Optimisme
03 Mei 2009
- Edisi: 1
Rubrik: Laporan Utama -
SKPD:
TAK TERASA tahun 2008 sudah beranjak meninggalkan jauh ke belakang. Satu tahun sudah program yang dirancang pemerintah kota Surabaya dijalankan. Tahun 2009 pun muncul sebagai tahun baru yang akan mengiringi segala aktifitas. Program pembangunan untuk kurun waktu satu tahun ke depan pun sudah dipersiapkan, menunggu untuk segera diwujudkan. Di tahun 2009, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya mencapai lebih dari Rp. 4 Triliun. Jumlah ini mengalami kenaikan sejumlah 33% dari tahun sebelumnya. APBD ini merupakan salah satu APBD kota/kabupaten terbesar di Indonesia. Bahkan di setiap tahunnya, Surabaya menjadi penyokong terbesar untuk APBD Jatim. Karena memberikan sumbangan lebih dari Rp. 3 Triliun dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) milik warga kota. Surabaya juga menjadi penyumbang terbesar APBN yang diperoleh dari pajak. Terutama cukai rokok yang dapat mencapai puluhan triliunan rupiah per tahunnya. Di tahun ini, pemkot Surabaya mengusung APBD untuk kesejahteraan rakyat. Perubahan orientasi APBD 2009 mengusung prioritas pada pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan rakyat. Diharapkan inisiatif ini dapat menjadi stimulus dan menyalurkan energi positif bagi warga kota Surabaya. Untuk menghadapi kondisi krisis dan melambatnya kinerja ekonomi. APBD 2009 makin mencerminkan kapasitas ekonomi Surabaya. Hal ini tampak dalam alokasi anggaran sebesar Rp. 2,8 Triliun (sekitar 70%) yang dialokasikan untuk belanja langsung. Diharapkan belanja langsung tersebut bukan saja dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Tetapi, juga dapat menjadi stimulus untuk bergeraknya ekonomi di sektor swasta. Lihat saja, meskipun layanan pendidikan dan kesehatan, baik yang dasar maupun lanjutan, sudah tersedia dengan harga yang terjangkau. Pemkot terus menginginkan untuk meningkatkan kualitas menjadi lebih baik dengan harga yang makin terjangkau. Anggaran pendidikan kota Surabaya meningkat dengan pesat, hampir mencapai Rp. 1,2 triliun. Ini setara dengan 30% dari total belanja daerah. Alokasi Ini merupakan salah satu persentase alokasi terbesar di Indonesia. Dari total jumlah tersebut, lebih dari Rp. 714 miliar dialokasikan untuk pendidikan. Digunakan untuk gaji guru, bantuan hibah, untuk sekolah hingga bantuan sosial untuk anak usia sekolah yang belum sekolah. Khusus untuk pendidikan dasar, saat ini pemkot Surabaya telah mampu menyediakan biaya profesional sesuai dengan anggaran yang diajukan oleh Kepala Dinas Pendidikan. Sehingga tidak ada alasan bagi kepala sekolah menarik pungutan untuk kebutuhan operasional sekolah. Selain itu, pemkot juga telah mampu memenuhi kebutuhan angga ran operasional dan investasi untuk Sekolah Berstandar Interna sional (SBI) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sehingga diharapkan tidak ada lagi pemisahan sekolah berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua siswa semata. Semua siswa-siswi di Surabaya diharapkan mampu untuk menggapai cita-citanya sesuai kemauan dan kemampuannya. Untuk alokasi anggaran kesehatan, pemkot menyediakan pelayanan kesehatan keluarga miskin lebih dari Rp. 21 miliar. Termasuk juga penyiapan Jamkesmas Non Kuota sekitar Rp. 10 miliar dan pelayanan untuk pemeliha raan lanjut usia (lansia) sekitar Rp. 6 miliar. Jika kebutuhannya meningkat maka akan diusulkan di Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2009. Alokasi ini dapat dimanfaatkan warga kota Surabaya yang bukan termasuk dalam kriteria miskin tetapi dalam perjalanannya kemudian menjadi miskin. Karena dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti, sebuah langkah antisipasi merupakan salah satu kunci penting. Inovasi pun terus dilakukan oleh pemkot Surabaya. Salah satunya te robosan untuk kesehatan masyarakat dalam pelayanan Puskesmas keliling. Setiap satu Puskesmas keliling (mobil) akan melayani 63 Posyandu. Jika satu mobil puskesmas keliling tersebut dapat melayani tiga Posyan du dalam satu hari, maka semua Posyandu tersebut akan menda pat kan pelayanan setiap 22 hari. Tentu saja warga kota, terutama yang miskin, tidak perlu lagi mengeluarkan biaya transportasi untuk berobat. Anggaran infrastruktur juga dialokasikan sebanding dengan anggaran untuk kesejahteraan rakyat, seperti; pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan. Lebih dari Rp. 1 triliun dialokasikan untuk anggaran pembangunan dan pengembangan infrastruktur. Alokasi anggaran pemba ngunan dan pengembangan infrastruktur mengalami kenaikan lebih dari 68% dari tahun sebelumnya. Anggran infrastruktur dialokasikan untuk pembangunan jalan baru sepanjang 7,28 km, Box Culvert di Banyu Urip, Semolowaru dan Menur, serta jalan tembus di Balas Klumprik sepanjang 3,1 km. Alokasi anggaran tersebut juga digunakan untuk pemasangan Pene rangan Jalan Umum (PJU) di 4.200 titik, pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana permukiman pada 677 lokasi, dan rehabilitasi atau pemeliharaan saluran drainase/ gorong-gorong pada 610 lokasi. Peningkatan terbesar terjadi pada program pengendalian banjir dan pengamanan pantai yang sekarang menjadi lebih dari Rp. 271 miliar. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 170% dari tahun lalu. Selain itu, peningkatan juga terjadi pada program pengelolaan jalan dan jembatan. Alokasi anggaran menjadi sekitar Rp. 305 miliar, naik 85% dari tahun sebelumnya. Menurut wali kota Surabaya, Bambang DH, diharapkan dengan perbaikan dan pembangunan infrastruktur ini biaya hidup warga kota menjadi lebih terjangkau. Pemkot Surabaya masih mempunyai pekerjaan rumah yang membutuhkan kerjasama dengan semua pihak. Pekerjaan rumah itu adalah program peningkatan ekonomi rakyat. Saat ini sudah terdapat aneka kampung produktif, seperti kampung lontong, kampung sabun, kampung dinamo, kampung ilmu, atau sentra PKL, seperti di Taman Bungkul, Karah, Dharmawangsa, dan Urip Sumuharjo. Di tahun 2009 ini diharapkan akan dibangun 17 sentra PKL dan pasar hobi. Pelaksanaan ini dapat memanfa at kan dana CSR (Corporate Social Responsibility) dan social energy dari media serta masyarakat luas. Gairah dan kepedulian pada Usaha Mikro dan Kecil (UMK), tampak dari sema ngat gotong-royong yang ditunjukkan stakeholder kota Surabaya. Krisis ekonomi seperti saat ini merupakan momentum yang tepat untuk merencanakan masa depan ekonomi kerakyatan. Perbaikan dan pembangunan terus-menerus dilakukan pemkot Surabaya di sana-sini. Tidak hanya secara kasat mata dari sisi fisik dan bangunan saja. Pola perilaku masyarakat pun sedikit demi sedikit tertata dengan baik, bersinergi dengan lingkungan alam. Seperti keinginan untuk menekan jumlah perokok pemula dan mening katkan kualitas kesehatan perokok pasif. Hendaknya dilaksanakan dengan tetap menghargai hak warga kota untuk merokok di area yang diijinkan, baik di tempat umum maupun tempat kerja. Semua alokasi APBD 2009 ini diharapkan dapat memacu kualitas hidup warga kota menjadi lebih berkualitas. Dengan terus memberikan pelayanan yang terbaik kepada warga kota sebagai stakeholder. Sebab, jika layanan publik kualitasnya semakin lebih baik, maka biaya hidup makin terjangkau. Pada akhirnya warga kota masih bisa memiliki dana lebih untuk melakukan konsumsi lainnya. Dengan begitu diharapakan dapat menggerakkan ekonomi lokal. Terbukti berdasarkan survei independen, Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Surabaya ternyata lebih rendah dari banyak ibukota propinsi lainnya. Termasuk lebih rendah dari lima kota/kabupaten di sekitarnya. Inilah prestasi keunggulan layanan publik di kota Surabaya. Meski diakui secara jujur oleh wali kota jika APBD 2009 secara signifikan mungkin belum dapat meningkatkan pendapatan warga. Tetapi, diharapkan dapat membantu warga kota, termasuk warga kota yang mengalami dampak krisis ekonomi. Alokasi APBD 2009 memang membersitkan optimisme publik. Tetapi, untuk mewujudkan visi menjadi kota jasa dan perdagangan yang Cerdas dan Peduli (Smart and Care), masih dibutuhkan kerja keras yang cerdas antara pemerintah, masyarakat, dan swasta. Untuk terwujudnya kota Surabaya yang berkelas dengan warganya yang berkualitas. (*) []
LOGIN
