Kota Surabaya meraih Adipura 2009   Surabaya Goes Open Source, Wujudkan Surabaya Smart City   Kota Surabaya meraih juara umum PORPROV II Malang 

Wacana

Belajar dari Seorang Veteran Perang
Perjuangan Belum Berakhir

 

Setelah perundingan antara Belanda dengan Indonesia dengan istilah perundingan Renville pada akhir tahun 1947,
tentara Indonesia yang berada di Jawa Barat ( Tentara divisi Siliwangi dan Angkatan Laut R.I – C.A Cirebon ) harus hijrah ke
Jawa Tengah melalui jalan darat. Angkatan Laut C.A III ditempatkan di Yogyakarta...


Suatu hari, saya duduk di hadapan seorang perempuan berusia kurang lebih sepuluh windu. Dihadapan saya duduk seporang wanita tua berpakaian veteran lengkap dengan tanda jasanya. Saya terkesima bukan hanya pada apa yang ia ceritakan, namun juga bagaimana cara ia menceritakan. Ia sangat tua untuk ukuran manusia. Tapi bagaimana ia bercerita, seperti orang yang belum berusia 50 tahun saja serta daya ingatnya yang masih kuat.
Di adalah salah seorang pelaku sejarah yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia agar Merah- Putih tetap berkibar. Ia ikut dalam beberapa peristiwa penting negeri ini. Para tokoh-tokoh besar di negeri ini adalah teman-teman seperjuangannya. Ia bercerita tentang hiruk-pikuk peperangan; tentang peluru yang berkali-kali hampir merampas nyawanya; tentang gerilya menyusuri sungai dan hutan, tentang pengintaian, menahan lapar karena tak ada makanan; tentang persembunyian dari serangan musuh di balik benteng-benteng pertahanan; tentang haru biru perjuangan untuk merebut kemerdekaan; serta cita-citanya terhadap Indonesia masa depan.
Pesannya, bahwa merdeka bukan berarti perjuangan berhenti. Perjuangan berhenti saat mati. Perang fisik memang tak ada lagi, tapi perang informasi, katanya, lebih mengerikan lagi bahayanya. Dia memang selalu punya semangat yang membaja. Siti Rochimah Sumadyo, itu nama yang diberikan oleh Komandan tempurnya dahulu. Yang Ti, panggilan akrabnya, berkisah, semasa mudanya ketika tahun 1947, ia bergabung dengan Laskar Wanita. Pada awal bergabung dengan Laskar Wanita, Yang Ti berjuang dibalik meja. Ketika itu ia dengan perempuan yang lainya ditugaskan menjadi administrasi kantor sebuah divisi angkatan laut yang bermarkas di Cirebon, yaitu C.A II Cirebon. Wanita yang bernama asli Siti Khasanah ini, sejak agresi militer Belanda II, tahun 1948, bersama para pejuang laki-laki mulai angkat senjata.
Karena markas tempat dia bekerja telah diduduki oleh Belanda. Walaupun sebagai tentara wanita satu- satunya dalam divisi angkatan laut, Yang Ti tetap tidak gentar dalam berperang. Dalam perjalanan hidupnya sempat beberapa kali dia tertangkap oleh belanda. ”Saat itu tahun 1949 Yang Ti ditugasi oleh komandan angkatan laut menjadi intelejen atau mata-mata, pada saat menjadi intelejen Yang Ti tertangkap dua kali,” kenangnya. Bermula dari situlah (menjadi Intelejen), nama Siti Khasanah berganti menjadi Siti Choiriyah.
Perempuan 11 cucu ini masih ingat betul apa yang dikatakan komandannya kala itu, bahwa nama Siti Choiriyah merupakan nama barunya, dan tidak boleh diganti selama- lamanya. Pada saat dia tertangkap dan diintrogasi oleh Belanda bukan hanya dicerca pertanyaan, namun juga dibarengi oleh siksaan. Bagaimana tubuhnya digencet dengan pintu agar mengaku dan menunjukan lokasi persembunyian pejuang-pejuang lainya. ”Lebih baik mati dari pada saya berkhianat pada bangsa ini, ” kenangnya dengan semangat.
”Dengan pertolongan Allah, melalui seorang teman pejuang juga, akhirnya Yang Ti dapat lolos dari Belanda,” imbuhnya. Kini, perempuan tua itu hanyalah seorang veteran. Ia hidup dengan sangat sederhana. Kesederhanaannya memaknai hidup sangat bersahaja. Untuk mengisi masa tuanya, Yang Ti disibukan dengan aktif berorganisasi. Yang Ti mengatakan bahwa, masa tua seperti ini harus banyak diisi dengan berbagai kegiatan, membaca, berorganisasi dan sebagainya agar tidak cepat pikun. Selain aktif sebagai wakil ketua di Piveri, Yang Ti sampai saat ini juga masih aktif mengajar Kewanitaan di Kodikal Angkatan Laut.
Ketika dimintai pendapat mengenai perhatian pemerintah terhadap veteran, Yang Ti mengungkapkan rasa terima kasih kepada pemerintah, karena telah memperhatikan kesejahteraan para veteran. Namun wanita lima putra ini juga mengungkapkan kekecewaanya. Yang Ti mencontohkan, pengakuan pahlawan Nasional kepada Bung Tomo sangat terlambat. ”Padahal Bung Tomo adalah seorang pejuang yang mempelopori perjuangan arek-arek suroboyo untuk mempertahankan kemerdekaan, ” ujarnya. Akan tetapi Yang Ti berharap pemerintah lebih baik lagi dalam memperhatikan kesejahteraan para pejuang.
Tak ada lagi kejayaan yang tersisa dari wajah Siti Choiriyah Sumadyo. Tubuhnya yang kecil mulai membungkuk dengan badan condong ke kiri. Gurat-gurat di wajahnya menunjukkan usianya yang sudah tidak muda lagi. Rambutnya yang sudah putih terlihat jelas dari kulitnya yang mulai keriput. Namun semangat untuk tetap berkarya dan mengabdi masih jelas terlihat dari semangatnya. Yang Ti hanya berpesan pada generasi penerus bangsa ini, jadilah generasi muda penerus bangsa yang bisa menghargai bapak – bapak pendahulu yang berjuang untuk bangsa ini dan bisa meneruskan perjuangannya... Adakah kita pernah menemukan seorang pejuang? Mungkin kita tidak sadar, ia ada di sekitar kita. Hidup dengan sangat sederhana, bahkan mungkin kekurangan. Fisik sudah sakit-sakitan, berjalan pun harus memakai tongkat. Ketika 17 Agustus tiba, saat pekik lagu kemerdekaan kembali bergema, ia terharu dengan air mata bahagia menatap kibaran Merah-Putih. Membayangkan peristiwa lebih dari 64 tahun silam. Saat itu, ia masih muda, gagah perkasa membawa senjata. Terpatri sebuah harap, pemuda setelah zamannya berbesar hati untuk terus melanjutkan perjuangan. Pemuda itu adalah kita. Dan kita berjuang dengan cara kita sendiri. Bangsa yang besar selalu tahu bagaimana cara menghargai pahlawannya, bukan? (aan)

RSUD Dr. Sutomo - 031-5501078 RS Islam Surabaya - 031-8471877 RS Dr Soewandhie - 031-3725905 PDAM - 031-5039373 PMK Kenjeran - 031-3736559 PMK Pasar Turi - 031-3534738 PMK Perak - 031-3291760 PMK Rungkut - 031-8411113 PMK Wiyung - 031-7523687 RS Haji - 031-5947760
©2009 Webmaster