Wacana
Belajar dari Seorang Veteran Perang
Perjuangan Belum Berakhir
Setelah perundingan antara
Belanda dengan Indonesia
dengan istilah perundingan
Renville pada akhir tahun 1947,
tentara Indonesia yang berada
di Jawa Barat ( Tentara divisi
Siliwangi dan Angkatan Laut R.I –
C.A Cirebon ) harus hijrah ke
Jawa Tengah melalui jalan darat.
Angkatan Laut C.A III ditempatkan
di Yogyakarta...
Suatu hari, saya duduk di
hadapan seorang perempuan
berusia kurang lebih
sepuluh windu. Dihadapan saya
duduk seporang wanita tua berpakaian
veteran lengkap dengan tanda
jasanya. Saya terkesima bukan
hanya pada apa yang ia ceritakan,
namun juga bagaimana cara ia menceritakan.
Ia sangat tua untuk ukuran
manusia. Tapi bagaimana ia
bercerita, seperti orang yang belum
berusia 50 tahun saja serta daya ingatnya
yang masih kuat.
Di adalah salah seorang pelaku
sejarah yang memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia agar Merah-
Putih tetap berkibar. Ia ikut dalam
beberapa peristiwa penting negeri
ini. Para tokoh-tokoh besar di negeri
ini adalah teman-teman seperjuangannya.
Ia bercerita tentang hiruk-pikuk
peperangan; tentang peluru yang
berkali-kali hampir merampas
nyawanya; tentang gerilya menyusuri sungai dan hutan, tentang
pengintaian, menahan lapar
karena tak ada makanan; tentang
persembunyian dari serangan
musuh di balik benteng-benteng
pertahanan; tentang haru biru perjuangan
untuk merebut kemerdekaan;
serta cita-citanya terhadap
Indonesia masa depan.
Pesannya, bahwa merdeka
bukan berarti perjuangan berhenti.
Perjuangan berhenti saat mati. Perang
fisik memang tak ada lagi, tapi
perang informasi, katanya, lebih
mengerikan lagi bahayanya. Dia memang
selalu punya semangat yang
membaja.
Siti Rochimah Sumadyo, itu
nama yang diberikan oleh Komandan
tempurnya dahulu. Yang Ti,
panggilan akrabnya, berkisah, semasa
mudanya ketika tahun 1947, ia
bergabung dengan Laskar Wanita.
Pada awal bergabung dengan
Laskar Wanita, Yang Ti berjuang dibalik
meja. Ketika itu ia dengan perempuan
yang lainya ditugaskan
menjadi administrasi kantor sebuah
divisi angkatan laut yang bermarkas
di Cirebon, yaitu C.A II Cirebon.
Wanita yang bernama asli Siti
Khasanah ini, sejak agresi militer Belanda
II, tahun 1948, bersama para
pejuang laki-laki mulai angkat senjata.
Karena markas tempat dia bekerja
telah diduduki oleh Belanda.
Walaupun sebagai tentara wanita
satu- satunya dalam divisi angkatan
laut, Yang Ti tetap tidak gentar
dalam berperang. Dalam perjalanan
hidupnya sempat beberapa kali dia
tertangkap oleh belanda. ”Saat itu tahun 1949 Yang Ti ditugasi
oleh komandan angkatan laut
menjadi intelejen atau mata-mata,
pada saat menjadi intelejen Yang Ti
tertangkap dua kali,” kenangnya.
Bermula dari situlah (menjadi Intelejen), nama Siti Khasanah berganti
menjadi Siti Choiriyah.
Perempuan 11 cucu ini masih
ingat betul apa yang dikatakan komandannya
kala itu, bahwa nama
Siti Choiriyah merupakan nama barunya,
dan tidak boleh diganti selama-
lamanya. Pada saat dia
tertangkap dan diintrogasi oleh Belanda
bukan hanya dicerca pertanyaan,
namun juga dibarengi oleh
siksaan.
Bagaimana tubuhnya digencet
dengan pintu agar mengaku dan
menunjukan lokasi persembunyian
pejuang-pejuang lainya. ”Lebih baik
mati dari pada saya berkhianat pada
bangsa ini, ” kenangnya dengan semangat.
”Dengan pertolongan Allah,
melalui seorang teman pejuang
juga, akhirnya Yang Ti dapat lolos
dari Belanda,” imbuhnya.
Kini, perempuan tua itu
hanyalah seorang
veteran. Ia hidup
dengan sangat sederhana.
Kesederhanaannya
memaknai hidup
sangat bersahaja.
Untuk mengisi
masa tuanya, Yang
Ti disibukan dengan
aktif berorganisasi.
Yang Ti mengatakan
bahwa,
masa tua seperti
ini harus banyak
diisi dengan berbagai
kegiatan,
membaca, berorganisasi
dan sebagainya
agar tidak
cepat pikun. Selain
aktif sebagai wakil
ketua di Piveri,
Yang Ti sampai
saat ini juga masih
aktif mengajar Kewanitaan
di Kodikal
Angkatan Laut.
Ketika dimintai pendapat mengenai
perhatian pemerintah terhadap
veteran, Yang Ti
mengungkapkan rasa terima kasih
kepada pemerintah, karena telah
memperhatikan kesejahteraan para
veteran. Namun wanita lima putra
ini juga mengungkapkan kekecewaanya.
Yang Ti mencontohkan, pengakuan
pahlawan Nasional kepada
Bung Tomo sangat terlambat. ”Padahal Bung Tomo adalah seorang
pejuang yang mempelopori
perjuangan arek-arek suroboyo
untuk mempertahankan kemerdekaan, ” ujarnya. Akan tetapi Yang Ti
berharap pemerintah lebih baik lagi
dalam memperhatikan kesejahteraan
para pejuang.
Tak ada lagi kejayaan yang
tersisa dari wajah Siti Choiriyah
Sumadyo. Tubuhnya yang kecil
mulai membungkuk dengan badan
condong ke kiri. Gurat-gurat di
wajahnya menunjukkan usianya
yang sudah tidak muda lagi.
Rambutnya yang sudah putih
terlihat jelas dari kulitnya yang
mulai keriput. Namun semangat
untuk tetap berkarya dan mengabdi
masih jelas terlihat dari semangatnya. Yang Ti hanya berpesan pada
generasi penerus bangsa ini, jadilah
generasi muda penerus bangsa
yang bisa menghargai bapak –
bapak pendahulu yang berjuang
untuk bangsa ini dan bisa
meneruskan perjuangannya...
Adakah kita pernah menemukan
seorang pejuang? Mungkin kita
tidak sadar, ia ada di sekitar kita.
Hidup dengan sangat sederhana,
bahkan mungkin kekurangan. Fisik
sudah sakit-sakitan, berjalan pun
harus memakai tongkat. Ketika 17
Agustus tiba, saat pekik lagu kemerdekaan
kembali bergema, ia terharu
dengan air mata bahagia menatap
kibaran Merah-Putih. Membayangkan
peristiwa lebih dari 64 tahun
silam. Saat itu, ia masih muda,
gagah perkasa membawa senjata.
Terpatri sebuah harap, pemuda setelah
zamannya berbesar hati untuk
terus melanjutkan perjuangan. Pemuda
itu adalah kita. Dan kita berjuang
dengan cara kita sendiri. Bangsa
yang besar selalu tahu bagaimana
cara menghargai pahlawannya,
bukan? (aan)
LOGIN
