Wisata
Cagar Budaya di Surabaya
Saksi Bisu Perjuangan Arek Suroboyo
Sebagai ikon kota
Surabaya, gedung pemerintahan
di Jl. Yos Sudarso
cukup megah dan kokoh
berdiri tepat di jantung kota
Surabaya. Di jalan tersebut
berdiri tegak patung besar Jenderal
Sudirman yang menghadap
ke selatan. Jenderal Sudirman
adalah seorang pemimpin militer
pada masa perang (1945-1949)
dan pengabdiannya pada negara
membangkitkan kenangan di
seluruh negeri. Oleh karena itu
hampir di seluruh kota di Indonesia
ada nama Jalan Jenderal
Sudirman.
Tepat dibelakang patung
tersebut terdapat GEDUNG
UTAMA BALAI KOTA yang terletak
di Taman Surya. Gedung yang
memiliki panjang 102 m dan
lebar 19 m selesai dibangun
pada tahun 1923 dan ditempati
tahun 1927. Dirancang oleh Arsitek
C. Citroen dan pelaksanaannya
H.V. Hollandshe
Beton Mij. Konstruksi bangunan
terdiri dari tiang-tiang pancang
beton bertulang yang ditanam,
sedangkan dinding-dindingnya
diisi dengan bata dan semen, atapnya
terbuat dari rangka besi
dan ditutup dengan sirap tetapi
kemudian diganti dengan genteng.
Dalam pembangunannya,
pembiayaan termasuk perlengkapan
lainnya menghabiskan
1000 gulden. Setelah Republik
Indonesia diproklamirkan, dilantik
Radjamin Nasution sebagai
Walikota Kota Besar Surabaya,
berdasarkan Penpres 1959 No.
16 maka ditetapkan Walikota
juga menjadi Kepala Daerah.
Tahun 1965 Kotapraja Surabaya
resmi menjadi Kotamadya.
Hari menjelang siang, sinar
matahari mulai terasa menyengan.
Namun tidak menyurutkan
semangat Gapura untuk malanjutkan
napak tilas, mengajak
pembaca untuk mengenang perjuangan
dalam merebut kemerdekaan.
TUGU PAHLAWAN
Tragedi pada tanggal 10 November
1945 dalam episode sejarah
yang lalu membuat
Surabaya terkenal sebagai kota
Pahlawan. Itu merupakan salah satu alasan mengapa Tugu
Pahlawan dibangun. Walaupun
banyak patung-patung pahlawan
di Surabaya, yang satu ini paling
penting. Tugu Pahlawan berdiri
bagai sebuah roket yang menjulang
ke bulan di Taman Kebonrojo
berseberangan dengan
Kantor Gubernur Jawa Timur di
Jl. Pahlawan. Tugu Pahlawan
bukanlah suatu benda seni atau
mungkin dekorasi, bukan pula
sesuatu yang istimewa, akan
tetapi dirancang dengan arsitektur
yang sederhana namun
kokoh. Monumen ini menjadi
pusat perhatian setiap tanggal
10 November. Dimana pada
tahun 1945 para pahlawan gugur
dalam perang kemerdekaan.
KANTOR GUBERNUR
Dahulu Gedung ini merupakan
pusat kegitan Pemerintah
sejak zaman Hindia Belanda,
Jepang dan masa Proklamasi.
Gedung ini pada bulan Oktober
1945 pernah dijadikan tempat
perundingan Presiden Soekarno
dengan Jenderal Hawhorn untuk
mendamaikan pertempuran yang
terjadi antara pasukan sekutu
dengan pemuda-pemuda
Surabaya. Dan dari gedung inilah
pada tanggal 9 November 1945
jm 23.00 Gubernur Suryo memutuskan
menolak Ultimatum
Jend. Mansergh yang berisikan
agar pejuang-pejuang Surabaya
menyerah tanpa syarat kepada
tentara sekutu, sehingga terjadilah
peristiwa pertempuran
pada tanggal 10 November 1945.
HOTEL MOJOPAHIT
Ini dahulu bernama LMS, Orange
Hotel, Yamato, Hotel
Hoteru dan menjadi pusat
kegiatan orang Eropa dan Belanda
unutk mengembalikan
kekuasaan Belanda di Surabaya.
Pada tanggal 19 September 1945
di Hotel ini terjadi INSIDEN BENDERA
yaitu perobekan warna
biru bendera Belanda oleh Pemuda-
pemuda Indonesia agar
menjadi bender Merah Putih
yaitu bendera Republik Indonesia.
Peristiwa ini terjadi diakibatkan
sekelompok orang
Belanda yang dipimpin Mr.
Pluegman mengibarkan bendera
Merah Putih Biru dipuncak sebelah
kanan Hotel. Dalam peristiwa
tersebut mengakibatkan
terbunuhnya Mr. Pluegman.
Hotel Majapahit Surabaya
adalah salah satu hotel di
Surabaya yang dirintis oleh
Lukas Martin Sarkies sejak tahun
1910 oleh Lukas Martin Sarkies.
Hoteln Majapahit ini merupakan
salah satu bangunan bersejarah
yang dilindungi karena merupakan
tempat terjadinya peristiwa
perobekan bendera Belanda
pada tahun 1945.
GEDUNG RRI
Dahulu gedung ini bernama Gedung Radio Surabaya Simpang
Weg. Di gedung ini tanggal 28-30
Oktober 1945 terjadi pertempuran
antara pejuang Surabaya
dengan sekutu. Pada pertempuran
ini banyak menimbulkan korban
terutama di kalangan rakyat
Surabaya. Karena fungsi gedung
RRI Surabaya ini amat penting,
maka gedung ni dikuasai oleh
pasukan Sekutu. Pada tanggal 29
Oktober sebagai akibat dari kemarahan
rakyat Surabaya,
gedung ini dibakar dan berakibat
tewasnya seluruh pasukan
Sekutu di dalamnya.
JEMBATAN MERAH
(Penghubung Jl. Rajawali dengan
Jl. Kembang Jepun)
Di sekitar jembatan merah
inilah terjadi pertempuran yang
paling seru di pulau Jawa.
Pertempuran Surabaya ini mulai
berkobar pada tanggal 10 November
1945, tidak sampai tanggal
tiga bulan setelah
Kemerdekaan Indonesia
diproklamasikan di Jakarta dan
di dalam pertempuran Jembatan
Merah inilah Brig. Jend. Mallaby
tewas. Tidak jauh dari jembatan
ini terdapat perkampungan
China (China Town), suatu
daerah yang dipenuhi dengan
bangunan-bangunan yang
berkonstruksi khas China.
Daerah ini merupakan pusat
perdagangan yang paling padat.
Dan Jembatan Merah merupakan
salah satu monumen sejarah
di Surabaya, Jawa Timur
yang dibiarkan seperti adanya:
sebagai jembatan. Jembatan
yang menjadi salah satu judul
lagu ciptaan Gesang ini, semasa
zaman VOC dahulu dinilai penting
karena menjadi sarana perhubungan
paling vital melewati
Kalimas menuju Gedung Keresidenan
Surabaya, yang sudah
tidak berbekas lagi.
Kawasan Jembatan Merah
merupakan daerah perniagaan
yang mulai berkembang sebagai
akibat dari Perjanjian Paku Buwono
II dari Mataram dengan
VOC pada 11 November 1743.
Dalam perjanjian itu sebagian
daerah pantai utara, termasuk
Surabaya, diserahkan penguasaannya
kepada VOC. Sejak
saat itulah Surabaya berada
sepenuhnya dalam kekuasaan
Belanda. Kini, posisinya sebagai
pusat perniagaan terus berlangsung.
Di sekitar jembatan terdapat
indikator-indikator ekonomi,
termasuk salah satunya Plaza
Jembatan Merah.
Perubahan fisiknya terjadi
sekitar tahun 1890-an, ketika
pagar pembatasnya dengan sungai
diubah dari kayu menjadi
besi. Kini kondisi jembatan yang
menghubungkan Jalan Rajawali
dan Jalan Kembang Jepun di sisi
utara Surabaya itu, hampir sama
persis dengan jembatan lainnya.
Pembedanya hanyalah warna
merah. (syl)
LOGIN
